GARIS RINDU

 
Judul: Garis Rindu
Penulis: Faishal Nafi' Rabbani
Revisi:-
#Blog


GARIS RINDU

    Masihku ingat pertama kali melihat mu. Kau masuk dalam kehidupku tanpa permisi, menghantui setiap detik dalam pikiranku. Entah siapa yang memulainya, namun kurasa namamu tak lekang oleh waktu. Ceritakanlah semua tentang harimu, takkan bosan ku mendengar semua itu hingga betapa sering ku menduga-dunga, adakah kode-kode abstrak yang tersirat dalam perbincangan kita ? Aku tak berdrama, namun nama mu tak bisa ku keluarkan dalam isi kepala. Aku tergila-gila hingga tak tahu mesti berbuat apa. Ini seperti sihir purba yang lebih tua dari manusia. Jika kau percaya dengan kata 'Jodoh', mungkin ini salah satu contohnya. Terlepas apa tentangmu, ada sesuatu yang membuatku merasa baik-baik saja, entah apa itu. Kau selalu berhasil membuat ku selalu jujur kepadamu tentang segala hal kecuali satu: perasaanku. Andai saja aku mampu memberitahumu, tapi aku terlalu takut akan reaksimu yang tak sesuai dengan imajinasiku selama ini. Kisah kita berlumur akan harapan palsu, tanganku menggapai menerka jalan keluar bak orang kehilangan arah. Aku siap menjadi bumi tuk mentarimu, lirik untuk lagumu, bahkan payung untukmu berteduh. Di dunia nyata harapan tak seindah realita. Namun kau tau aku tetap disini menjadi orang yang sama, yang merindukanmu dengan sederhana, mengejarmu dengan wajar, menyayangimu dengan luar biasa, dan mengharapkanmu dengan kemustahilan.

     Ketidaktegasan adalah sesuatu yang ada di antara kau dan aku. Pantaskah jika hatiku masih berharap lebih setiap kali kau menyandarkan kepalamu di atas bahuku ? Kau memang mahir menuai harapan di dalam hatiku, menaruhnya hingga kedalam relung jiwaku. Berharap padamu seakan-akan menggenggam batang mawar yang penuh akan duri di kedua tanganku, Memang indah tuk di pandang namun ada sakit yang harus terbayarkan. Disela kesakitan, selalu kuselipkan kata rinduku di setiap malam sebelum rindu itu terlampir pagi hari di depan pintu kamarmu. Kau tersipu membalas rinduku dengan senyuman, yah hanya senyuman, aku tak tau dimanakah sebenar-benarnya perasaanmu bermukim.

    Menyayangimu adalah soal keikhlasan, bukan keikhlasan yang terus menerus mengharapkanmu untukku. Aku sadar bahwa kamu juga berhak untuk bahagia, urusan apakah aku yang membuat kamu bahagia atau bukan, itu tak jadi soal. Tugasku disini hanyalah menghiburmu dikala kau berduka. Melihatmu tersenyum adalah kebahagianku yang kumiliki saat ini. Aku tidak kecewa, hanya saja aku berharap kebahagian itu tidak semu, berharap kau yang akan bersanding bersamaku.

Posting Komentar

0 Komentar